MENJAGA MARWAH PERS SEBAGAI PILAR EDUKASI BANGSA DI TENGAH BADAI EKONOMI DAN UJIAN INTEGRITAS

 

𝐉𝐀𝐖𝐀 𝐓𝐄𝐍𝐆𝐀𝐇, 𝐑𝐉𝐒𝐍𝐄𝐖𝐒 𝐈𝐃 — Di tengah dinamika peradaban dan himpitan situasi ekonomi nasional yang kian fluktuatif, peran pers sebagai pilar keempat demokrasi dituntut untuk tetap berdiri kokoh. Menjalankan fungsi kontrol sosial bukan sekadar profesi beralaskan legalitas, melainkan sebuah pengabdian luhur yang mengemban misi edukasi, baik terhadap instansi swasta, institusi pemerintah, maupun lapisan masyarakat luas. Keteguhan dalam menyuarakan kebenaran ini menjadi jangkar moral di tengah gelombang ketidakpastian bangsa.


​Hal tersebut ditegaskan oleh wartawan senior, pemilik media, sekaligus pengamat integritas publik, KRT Ardhi Solehudin, SH, M. Kom. Pria yang juga aktif sebagai anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Jawa Tengah ini menggarisbawahi bahwa profesi pekerja pers adalah pekerjaan yang sangat mulia, sekalipun tantangan nyata yang dihadapi di lapangan saat ini sama sekali tidak ringan. Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya datang dari luar berupa resistensi sektoral, tetapi juga dari beban realitas hidup yang kian menjepit masyarakat dan pekerja pers itu sendiri.


​Saat ini, bangsa Indonesia sedang diuji dengan lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok yang meroket serta kenaikan drastis harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax. Tekanan ekonomi ini secara langsung berdampak pada urusan dapur rakyat sekaligus operasional para pekerja pers di lapangan. Namun, di sinilah letak ujian integritas yang sesungguhnya. Seorang jurnalis sejati harus mampu melampaui kepentingan pribadinya demi menyuarakan hak publik yang lebih besar.


​Dalam refleksi mendalamnya, KRT Ardhi Solehudin menyitir pesan moral spiritual universal mengenai keteguhan hati:


​"Kesabaran adalah kunci menuju ketenangan jiwa di tengah cobaan dunia yang sementara. Sebab terkadang takdir tak selalu sesuai dengan rencana. Itulah mengapa di setiap doa terdapat kata 'semoga'. Oleh karena itu, bergaullah dengan orang yang membawamu dekat pada Allah, karena teman adalah cermin dari dirimu."


​Lebih lanjut, KRT Ardhi Solehudin mengingatkan seluruh insan pers untuk senantiasa merapatkan barisan, menjaga lingkungan profesi yang sehat, dan tetap bersandar pada nilai-nilai ketuhanan. Rekan sejawat dan lingkungan kerja adalah cermin dari profesionalisme serta moralitas gerakan pers itu sendiri.


​Di tengah situasi yang penuh gunjingan, skeptisisme, bahkan upaya intimidasi terhadap produk jurnalistik, pers tidak boleh surut selangkah pun dalam melakukan publikasi berita. Setiap informasi, temuan investigasi, dan data lapangan yang telah diverifikasi sebagai fakta nyata harus tetap disajikan secara transparan kepada publik.


​Pers tidak perlu gentar terhadap riak gunjingan atau resistensi pihak-pihak tertentu, sepanjang seluruh proses kerja jurnalistik tersebut dilakukan secara objektif, patuh, dan tunduk sepenuhnya pada payung hukum Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik (KEJ).


​Opini ini menjadi sebuah seruan moral sekaligus edukasi bagi bangsa: bahwa di balik lembaran berita yang kritis, terdapat hati nurani jurnalis yang tetap bersyukur, bersabar, dan konsisten merawat integritas publik demi kemaslahatan bersama. Pers harus tetap menjadi obor penerang, memberikan edukasi berbobot, bukan sekadar komoditas di tengah kegelapan informasi.

Oleh:

KRT. Ardhi Solehudin, SH, M.Kom