​๐’๐Š๐€๐๐ƒ๐€๐‹ ๐Œ๐๐† ๐’๐€๐‹๐€๐“๐ˆ๐†๐€: ๐Š๐ž๐ฉ๐š๐ฅ๐š ๐’๐ž๐ค๐จ๐ฅ๐š๐ก ๐“๐ž๐ฆ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐’๐ž๐ค๐ซ๐ฎ๐ฉ ๐ก๐ข๐ง๐ ๐ ๐š ๐”๐ฅ๐š๐ญ ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐Œ๐š๐ค๐š๐ง๐š๐ง, ๐Š๐‘๐“ ๐€๐ซ๐๐ก๐ข ๐’๐จ๐ฅ๐ž๐ก๐ฎ๐๐ข๐ง ๐Š๐ž๐œ๐š๐ฆ ๐Š๐ž๐ซ๐š๐ฌ ๐๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฅ๐จ๐ฅ๐š ๐Œ๐๐†!


๐‰๐€๐–๐€ ๐“๐„๐๐†๐€๐‡, ๐‘๐‰๐’๐๐„๐–๐’.๐ˆ๐ƒ – 1 Maret 2026 ​Dunia pendidikan di Salatiga digemparkan oleh temuan mengerikan dalam distribusi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Seorang Kepala Sekolah Dasar (SD) di wilayah Salatiga secara tegas menyemprot dan menolak kiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena ditemukan benda asing dan bahan pangan yang busuk.

Dalam inspeksi mendadak di sekolah tersebut, ditemukan fakta mencengangkan: adanya sekrup logam di dalam makanan, ulat pada sayuran, serta buah jeruk yang sudah busuk. Temuan ini dinilai bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk sabotase terhadap kesehatan generasi bangsa dan pengkhianatan terhadap anggaran negara.

KRT Ardhi Solehudin, SH, M.Kom, selaku jurnalis, pemilik media, aktivis pers, sekaligus pengamat integritas publik, meradang melihat kenyataan ini. Ia menegaskan bahwa kejadian di Salatiga adalah puncak gunung es dari carut-marutnya pengelolaan MBG di tingkat pusat maupun daerah.

๐’๐จ๐ซ๐จ๐ญ๐š๐ง ๐‡๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ: ๐๐ž๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ ๐š๐ซ๐š๐ง ๐๐ข๐๐š๐ง๐š ๐๐ข ๐๐š๐ฅ๐ข๐ค ๐๐ข๐ซ๐ข๐ง๐  ๐’๐ข๐ฌ๐ฐ๐š

​Ardhi menekankan bahwa temuan benda asing seperti sekrup dan makanan busuk bukan hanya masalah teknis, melainkan potensi pelanggaran hukum berat:

๐๐ž๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ ๐š๐ซ๐š๐ง ๐”๐” ๐๐ž๐ซ๐ฅ๐ข๐ง๐๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐Š๐จ๐ง๐ฌ๐ฎ๐ฆ๐ž๐ง: Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999, pelaku usaha (pengelola MBG) wajib memberikan barang yang layak dan aman. Menghidangkan makanan berisi logam dan ulat adalah bentuk pengabaian hak keselamatan konsumen yang bisa berujung pidana.

๐ˆ๐ง๐๐ข๐ค๐š๐ฌ๐ข ๐“๐ข๐ง๐๐š๐ค ๐๐ข๐๐š๐ง๐š ๐Š๐จ๐ซ๐ฎ๐ฉ๐ฌ๐ข (๐“๐ข๐ฉ๐ข๐ค๐จ๐ซ): "Jika anggaran yang dikucurkan besar namun yang sampai ke meja siswa adalah makanan sampah, maka patut diduga ada mark-up atau penyunatan anggaran," tegas Ardhi. Sesuai UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001, setiap tindakan yang merugikan keuangan negara demi keuntungan pribadi atau kelompok adalah korupsi yang harus disikat tanpa pandang bulu.

"Ini sudah sangat keterlaluan! Bagaimana mungkin makanan yang katanya 'bergizi' justru mengandung sekrup dan ulat? Ini bukan memberi gizi, ini membahayakan nyawa siswa! Saya berkali-kali mengunggah fakta lapangan ini, tapi seolah-olah pusat menutup mata dan telinga," tegas Ardhi dengan nada tinggi.

๐๐ž๐ซ๐ข๐ง๐ ๐š๐ญ๐š๐ง ๐Š๐ž๐ซ๐š๐ฌ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐€๐ก๐ฅ๐ข ๐†๐ข๐ณ๐ข ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฅ๐จ๐ฅ๐š

​Ardhi juga menyoroti peran para ahli gizi yang terlibat dalam program ini. Ia mengingatkan agar mereka bekerja sesuai kode etik dan tidak menjadi 'tameng' untuk melindungi ketidakberesan distribusi.

"Jangan sampai ahli gizi ikut-ikutan melindungi bobroknya pengelola hanya demi mengamankan proyek. Ingat, ini uang rakyat! Jangan mencari kesempatan di atas piring anak sekolah. Jika makanan tidak layak, itu adalah kejahatan kemanusiaan berkedok program sosial," tambahnya.

​๐ˆ๐ง๐ฌ๐ญ๐ซ๐ฎ๐ค๐ฌ๐ข ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐’๐ž๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ก ๐’๐ž๐ค๐จ๐ฅ๐š๐ก: ๐‚๐ž๐ค ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐Š๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข๐ค๐š๐ง!

​Sebagai bentuk kontrol sosial, Ardhi menghimbau dengan sangat kepada seluruh Kepala Sekolah dan guru penerima manfaat MBG di seluruh Indonesia untuk melakukan pengecekan berlapis sebelum makanan dibagikan ke siswa.

"Saya himbau, cek dulu kelayakannya! Jika tidak layak, jangan kasih ke anak-anak. Kembalikan ke pengelolanya, suruh pihak MBG itu makan sendiri makanan busuk mereka! Jangan mau jadi korban sistem yang korup," ketus Ardhi.

๐“๐ž๐ ๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐ž๐ฆ๐ž๐ซ๐ข๐ง๐ญ๐š๐ก ๐๐ฎ๐ฌ๐š๐ญ

​Penulis berita dan pengamat integritas publik ini mempertanyakan fungsi pengawasan dari Pemerintah Pusat. Dengan banyaknya unggahan viral di TikTok dan pemberitaan media massa mengenai korban keracunan serta makanan tak layak, ia heran mengapa belum ada tindakan revolusioner dari pemegang kebijakan.

"Apakah suara rakyat di TikTok dan pemberitaan jurnalis hanya dianggap angin lalu? Presiden dan tim pusat harus turun tangan sekarang juga. Evaluasi total seluruh pemegang tender dan pengelola SPPG. Jangan biarkan anggaran triliunan rupiah habis hanya untuk menyuapi anak-anak kita dengan makanan sampah!" tutup Ardhi dalam pernyataan resminya.(***) 

๐‘๐ž๐